34th Poem: Bidadari
Bidadari
Bidadariku,
Semilir angin sepoi – sepoi di pagi hari
Mendendangkan melodi tawa riangmu
Bagai lantunan lagu sopran nan merdu
Kulihat sosokmu berdiri di tengah lapang
Di hamparan padang ilalang matahari
Semburat oranye di antara taburan zamrud
Hitam rambutmu antara belaian jerami
Melambai memanggilku, bagaikan hipnosis
Ku melangkah, seakan haus akan oasis.
Kulihat bibir mungilmu merekah indah
Tersenyum manis semanis madu pagi
Matahari dan ilalang pun serta tertawa
Barisan gigi putihmu membingkai indah
Memanggil namaku bagaikan litani pujian
Menyambut panggilan hati dan jiwaku
Wahai belahan jiwaku,
Kaulah bidadariku,
Cantik tak terperikan
Lembut bagaikan sutra,
Ingin bibirku mengecupmu,
Ingin lenganku mendekapmu,
Ingin jantungku berdegup untukmu,
Ingin jiwaku melebur bersama hatimu,
Wahai bidadariku,
Nafasku tlah jadi milikmu,
Tetes darahku hanya untukmu,
Kaulah tuan bagi jiwa ragaku,
Takkan lagi kuberpaling.
~End~
(Poem is dedicated to the owner of my heart, my soulmate)
***
Long time with no updates. Well, time has been unkind to me and being a med student really drains my mood. Anyway, this poem is really...just appear all out of nowhere like *POOF* there!
It is inspired by my own hallucination after a stressing day, that I kind of met my soulmate. A beautiful girl with a long black hair, dressed in an orange sundress with a straw hat, standing in the middle of sunflower field and smiling up to me. The sun is not too high at late morning, clear blue sky, white puffy clouds and windy day. All in all is just a romantic painting/hallucination.
I kind of wish one day I can have that image.
Oh well, happy reading!
PS: first time writing in Indonesian. I hope I don't butcher up the whole poem -.-;
Bidadariku,
Semilir angin sepoi – sepoi di pagi hari
Mendendangkan melodi tawa riangmu
Bagai lantunan lagu sopran nan merdu
Kulihat sosokmu berdiri di tengah lapang
Di hamparan padang ilalang matahari
Semburat oranye di antara taburan zamrud
Hitam rambutmu antara belaian jerami
Melambai memanggilku, bagaikan hipnosis
Ku melangkah, seakan haus akan oasis.
Kulihat bibir mungilmu merekah indah
Tersenyum manis semanis madu pagi
Matahari dan ilalang pun serta tertawa
Barisan gigi putihmu membingkai indah
Memanggil namaku bagaikan litani pujian
Menyambut panggilan hati dan jiwaku
Wahai belahan jiwaku,
Kaulah bidadariku,
Cantik tak terperikan
Lembut bagaikan sutra,
Ingin bibirku mengecupmu,
Ingin lenganku mendekapmu,
Ingin jantungku berdegup untukmu,
Ingin jiwaku melebur bersama hatimu,
Wahai bidadariku,
Nafasku tlah jadi milikmu,
Tetes darahku hanya untukmu,
Kaulah tuan bagi jiwa ragaku,
Takkan lagi kuberpaling.
~End~
(Poem is dedicated to the owner of my heart, my soulmate)
***
Long time with no updates. Well, time has been unkind to me and being a med student really drains my mood. Anyway, this poem is really...just appear all out of nowhere like *POOF* there!
It is inspired by my own hallucination after a stressing day, that I kind of met my soulmate. A beautiful girl with a long black hair, dressed in an orange sundress with a straw hat, standing in the middle of sunflower field and smiling up to me. The sun is not too high at late morning, clear blue sky, white puffy clouds and windy day. All in all is just a romantic painting/hallucination.
I kind of wish one day I can have that image.
Oh well, happy reading!
PS: first time writing in Indonesian. I hope I don't butcher up the whole poem -.-;


0 Comments:
Post a Comment
<< Home