Sunday, June 13, 2010

35th Poem: Mimpi Bidadari

Mimpi Bidadari

Bidadariku,


Semilir angin sepoi – sepoi di pagi hari
Mendendangkan melodi tawa riangmu
Bagai lantunan lagu sopran nan merdu

Kulihat sosokmu berdiri di tengah lapang
Di hamparan padang ilalang matahari
Semburat oranye di antara taburan zamrud

Hitam rambutmu antara belaian jerami
Melambai memanggilku, bagaikan hipnosis
Ku melangkah, seakan haus akan oasis.

Kulihat bibir mungilmu merekah indah
Tersenyum manis semanis madu pagi
Matahari dan ilalang pun serta tertawa

Barisan gigi putihmu membingkai indah
Memanggil namaku bagaikan litani pujian
Menyambut panggilan hati dan jiwaku

Wahai belahan jiwaku,
Kaulah bidadariku,
Cantik tak terperikan
Lembut bagaikan sutra,

Ingin bibirku mengecupmu,
Ingin lenganku mendekapmu,
Ingin jantungku berdegup untukmu,
Ingin jiwaku melebur bersama hatimu,

Wahai bidadariku,
Nafasku tlah jadi milikmu,
Tetes darahku hanya untukmu,
Kaulah tuan bagi jiwa ragaku,
Takkan lagi kuberpaling,

Ah, tapi…
Matahari tak lagi bersinar,
Angin tlah berhembus jauh,
Padang ilalang tlah kering,
Jalinan jerami pun hangus,
Tidak lagi ada hidup

Tidak ada engkau,
Hanya padang kosong,
Yang kulihat hampa.

Bidadariku,
Tiada bayangmu,
Sunyi senyap tawamu,
Tersisa pahit tanpa senyum,
Hilang sudah sosokmu,

Ke manakah engkau?
Sekedar ilusikah engkau?
Mimpikah aku selama ini?

Bidadariku.
(Poem is dedicated to all dreamer who dreams about a perfect romance but just a dreamer)

***

Another version of "Bidadari" that I've written just now. Why this one? Because I'm a realist (read: pessimist) who never believes it will happen. Anyway, I wish of her, I dream of her, I long for her but still she is far away from my reach and perhaps it shall even never happen.

Happy reading!


PS: another poem in Indonesian... really it just comes out from my mind like that! ^^;

0 Comments:

Post a Comment

<< Home